Feb 27 2006

Pengkhianatan

Published by afemaleguest at 2:28 am under daily

Adakah yang lebih impas dari pengkhianatan selain membalasnya dengan pengkhianatan pula?

“Aku lebih percaya kepada laki-laki dari pada kepada perempuan ketika aku curhat. Laki-laki lebih bisa menjaga rahasia daripada perempuan. Menurutku, perempuan selalu memiliki kecenderungan untuk berkhianat, termasuk kepada teman baiknya sendiri. Demi keselamatan dirinya sendiri.”

Itu yang dikatakan oleh seorang teman baikku, seorang perempuan, ketika aku curhat kepadanya malam minggu lalu. Aku agak shock mendengarnya. Betapa selama ini aku membenci hal-hal yang seksis begini. Namun kemudian aku menemukan jawaban mengapa dia sampai berpendapat demikian. “Well, hidup di kultur patriarki seperti ini, dimana kaum perempuan harus “survive”, kadang untuk memperebutkan seorang laki-laki, membuat perempuan mempunyai kecenderungan berkhianat seperti yang kamu katakan. Misalnya, seorang perempuan akan dianggap “normal” dan “bahagia” kalo dia menikah dan memiliki anak. Pandangan yang seperti ini membuat perempuan menganggap perempuan lain sebagai saingannya. Itu yang kemudian bisa jadi membuatnya tega mengkhianati perempuan lain, agar dia “survive”.

Aku yang dilahirkan dalam sebuah keluarga yang sangat religius, yang memandang hubungan laki-laki perempuan tabu, kecuali “kalo saatnya sudah tiba”, sejak kecil lebih memilih berteman dengan seorang perempuan. Berbeda dengan teman yang kuceritakan di atas tadi. Dia berteman dengan laki-laki sejak kecil. Sehingga dia pun bisa berpendapat seperti itu, karena dia mengenali karakter laki-laki dan perempuan?

Aku ditempa untuk selalu mengalah (demi menang?) apalagi dengan sesama perempuan, betapa tentu aku tidak tega untuk berpikiran bahwa perempuan, kaumku, memiliki kecenderungan untuk berkhianat.

Dan, aku di’indoktrinasi’ bahwa kalau kita tidak melakukan hal yang buruk kepada orang lain, kita tidak akan mengalami hal-hal yang buruk. Mungkin semacam ‘karma’ yang dikenal dalam agama Buddha.

Sehingga, ketika seorang teman yang menganggapku sebagai “belahan jiwa”nya—seorang perempuan—mengkhianati aku, aku menjadi tidak habis pikir, how could she do such a nasty thing to me?  Tak pernah aku melakukan hal yang buruk kepadanya. (Ataukah mungkin ini hanya pendapatku? Mungkin ternyata aku sudah pernah melukainya tanpa aku sadari?)

Betapa lelah menahan rasa amarah, luka, dan menyadari bahwa aku ingin membalas langsung apa yang telah dia perbuat padaku, tak perlu melalui tangan orang lain.

Ah …




Comments RSS

Leave a Reply