Dec 26 2005
Anak-ortu = istri-suami?
Here is an email for a good friend of mine, that I want to share with you, my blog readers.
Hello say,
Belum bosen kan baca emailku? Kamu tahu, aku selalu ingin menulis sesuatu. Aku sudah biasa menulis di diaryku, yang tentu saja hanya spesial buatku. Kadang-kadang, aku juga ingin menulis tentang sesuatu, dan kepengen share kepada seseorang. Kali ini, aku kepengen share ke kamu.
Kalo nggak salah, sorry kalo lupa, nama lengkap anakmu Marlynda Nabilla Rezza. Well, aku simpan nama indah itu di hape lamaku, yang udah dicuri orang, so aku agak lupa lengkapnya. Rezza, itu tentu diambil dari nama belakangmu, right? Pertanyaanku, mengapa kamu harus ikut menyertakan namamu dalam nama anakmu? Untuk mengatakan pada dunia bahwa dia adalah anakmu? Hak milikmu? Kamu punya hak atasnya? Ato lebih ekstrim lagi, dia adalah barang milikmu? Seperti biasa, kita menulis nama kita di barang yang kita punya? Untuk menunjukkan ke orang di sekitar kita bahwa itu adalah barang kita?
Mengapa setelah menikah, perempuan harus memakai embel-embel nama suaminya? Juga untuk menunjukkan bahwa dia adalah ‘milik’ suaminya? Ato, seperti yang secara ekstrim kutulis di atas, setelah menikah, sang istri menjadi barang milik suaminya? Yang kemudian tidak berhak untuk memiliki kehidupan dan pilihannya sendiri?
Dalam analisis bab 4 tesisku, aku menulis bahwa, dalam taraf ekstrim, hubungan istri-suami sama dengan hubungan anak-orang tua. Istri milik suami, anak milik orang tua. Dengan alasan cinta, orang tua ‘menentukan’ apa-apa yang ‘seharusnya’ dilakukan oleh sang anak. Kadang, tanpa mau tahu apakah anak keberatan ato tidak. (Pernahkah kamu berpikir, suatu saat nanti, setelah dewasa, seandainya anakmu tumbuh dengan cara berpikir sepertiku, dia akan protes, mengapa ayahnya harus mengikuti kemana pun dia pergi, karena nama ayahnya tertempel di belakang namanya? Seolah untuk selalu mengingatkan, “Hello, Marlynda Nabilla … kamu adalah milikku, ayahmu.” Ingat, di masa datang, pengaruh perspektif feminisme akan semakin meluas, sapa tahu anakmu pun akan menjadi bagian dari penganut ideologi ini?) Dalam kultur patriarki di mana kita tinggal sekarang ini, baik anak maupun istri diwajibkan untuk patuh kepada orang tua maupun suami. Timbal baliknya, atas fasilitas yang disediakan oleh orang tua untuk anaknya, si anak harus menurut apa pun kata orang tua, melakukan apa-apa yang orang tua tentukan; sedangkan atas fasilitas yang disediakan oleh seorang suami kepada istrinya, si istri harus mengikuti semua kehendak suami, termasuk melayani kebutuhan seksualnya. Tak salah kalo kemudian para feminis radikal mengatakan bahwa perkawinan adalah praktek prostitusi eksklusif.
Ketika membaca bagian itu, dosen pembimbingku bertanya, darimana aku mendapatkan ide seperti itu. Aku lupa, apakah itu murni ideku, ato aku membaca di suatu buku ato artikel yang kudapatkan dari internet. Yang aku ingat hanyalah, para kaum feminis (yang radikal, bukan yang liberal) memprotes embel-embel nama orang tua ato nama suami di belakang nama perempuan, sehingga kaum perempuan tidak merasa bahwa mereka adalah hak milik orang tua ato suami. Dalam konvensi hak-hak perempuan sedunia, perempuan berhak memilih untuk memakai nama keluarga orang tua (ayah ato ibu) ato suami ato tidak memakai keduanya setelah menikah. Kebetulan kedua orangtuaku bersaudara sepupu, so mereka memakai nama keluarga yang sama, Podungge. Ketika aku memakai nama marga Podungge, well, bisa jadi itu dari nama marga ibuku ato ayahku kan. Namun, dengan ‘kebesaran’ hatinya, di dalam akte kelahiranku, ayahku tidak menyertakan nama marga ini di belakang namaku. Aku bukan milik siapa-siapa. I love it. Well, meskipun, akhir-akhir ini, ketika menulis namaku di buku yang barusan kubeli, aku nulis, “NANA PODUNGGE”. paradox, eh? Well, hanya untuk sedikit membedakan antara Nana yang satu dengan Nana yang lain aja. Maklum, nama Nana kan nama yang amat pasaran. Hehe … ngaku nih.
Pemakaian nama suami oleh para perempuan akan selalu mengingatkan mereka bahwa mereka adalah “milik” suami mereka. Sedangkan lelaki tidak memakai nama istri mereka, sehingga mereka tidak akan selalu merasa bahwa mereka telah “dimiliki” oleh seseorang, yakni istrinya. Bahkan banyak di antara kaum lelaki itu dengan nyamannya mengaku “belum menikah” untuk kemudian menggombali perempuan lain, yang berarti mereka menganggap istri mereka tidak ada. Bahkan, tak sedikit pula yang “mematikan” istrinya, dengan mengatakan, “istriku mati dalam kecelakan mobil beberapa tahun lalu”. Shit.
Salam,
Nana