Jul 04 2009

Komunikasi dalam komunitas

Published by afemaleguest under daily

Hari kamis 2 Juli 2009 aku mendapatkan undangan dari Telkom untuk mengisi pelatihan bagi para pegawainya. Why the heck? Bukan untuk memberi training in English, apalagi mensyiarkan feminisme, LOL, (dua hal yang jelas tidak bisa dipisahkan dari seorang Nana Podungge). So what dong? Untuk bercerita tentang komunitas yang telah kugeluti selama kurang lebih satu tahun ini: bike to work.

Nyambung ga?

Kebetulan pelatihan yang diberikan oleh Telkom ini ditujukan kepada para pegawainya yang bergerak di divisi Customer Care. Dan tugasku adalah bercerita tentang komunitas bike to work, lebih spesifik lagi bagaimana para anggota komunitas berkomunikasi satu sama lain. (Komunikasi? Jelas erat hubungannya dengan T-E-L-K-O-M. Am I right?)

Tidak ada persiapan apapun yang kulakukan sebelum hadir ke ‘venue’ karena aku dihubungi oleh seseorang dari Telkom satu hari sebelumnya, mepet banget waktunya. Dan bocoran yang kuterima hanya satu, “sharing pengalaman tentang berkomunitas.” Mana waktu aku dihubungi, aku sedang berpusing-ria membuat lesson plan di kantor, aku ga kepikiran untuk mempersiapkan konsep mau berbicara apa di dalam pelatihan tersebut. Ya sudah, dengan bekal pengalaman ngocol di depan siswa/mahasiswa, aku tampil pede aja. Moreover talking about something I love: komunitas yang kubanggakan.

Aku memulai pembicaraan dengan menyebutkan pertama kali komunitas bike to work Semarang terbentuk, yakni akhir Juni 2008, dengan dibentuknya kepengurusan. Aku juga tak lupa menyebutkan bagaimana aku bisa mengenal personnel-personnel bike to work lain: melalui dunia maya, khususnya lewat www.multiply.com Waktu itu aku—yang memang hobby curhat ga penting di dunia perbloggingan—menulis tentang harga BBM yang naik dari Rp. 4500,00 menjadi Rp. 6000,00. Komplain betapa itu sangat memberatkan bagi rakyat kecil. Impactnya tentu harga-harga bahan pokok semakin tak terjangkau. Nah, seseorang dari ‘contact list’ku di MP yang menggunakan nama ‘Aluizeus’ menulis komentar, sekaligus promosi, “berbike to work aja mbak. Kalau berkenan, gabung saja ya dengan komunitas bike to work Semarang. Kita biasa berkumpul di hari Minggu pagi sekitar pukul 06.00 di depan kantor Telkom.”
Aku yang masih ja-im (mosok guru berangkat bekerja naik sepeda sih? Apa kata dunia? LOL. Apa kata siswa/mahasiswa kalau ngeliat aku datang naik sepeda yang sama sekali tidak bergengsi ini?) dengan halus menolak ajakan itu.

Namun rupanya seorang Aluizeus adalah seseorang yang gigih mengejar. (Maklum, biasa bekerja di bidang marketing kali. LOL.) Aku tetap saja jaim. LOL. Untungnya, tatkala aku bercerita kepada adikku tentang seseorang yang gigih mengejarku untuk bergabung dengan komunitas yang akan dia rintis ini, adikku semangat banget menyambutnya. Penyebab utamanya adalah: kakak kita berdua yang tinggal di Cirebon sudah merupakan seorang praktisi bike to work. Kebetulan juga di rumah ada sebuah sepeda nganggur. So? Why not?

Adikku lah yang memulai ikut bergabung dengan beberapa personnel pioneer b2w Semarang pada satu hari Minggu pagi. Kemudian tatkala ada undangan rapat pembentukan pengurus, kita berdua datang, dan langsung didapuk menjadi sekretaris. Pada waktu itu hanya kita berdua anggota yang berjenis kelamin perempuan.

Dan resmilah aku berkecimpung di komunitas b2w Semarang. Setelah berhasil mengesampingkan keja-iman, aku pun akhirnya mempraktekkan b2w. Ternyata, setelah ja-imku hilang, aku malah bangga pada diri sendiri karena telah ikut serta berpartisipasi untuk mengurangi polusi udara.

Kalau ga mulai dari diri kita sendiri, lalu siapa?

Kita menjaring anggota agar lebih banyak lagi, salah satunya, melalui dunia maya. Dan untuk menjalin komunikasi, Aluizeus pun membentuk milis b2wsemarang di yahoogroups. (Harus diakui, b2w Semarang banyak berutang budi pada makhluk satu ini. LOL.) Sebelum Facebook mewabah seperti sekarang ini—dan para member b2w pun terkena imbasnya, menjadi fesbuker aktif—milis b2wsemarang di yahoogroups menjadi ajang saling melempar ide untuk melakukan event tertentu, atau sekedar ‘touring’, bagaimana membesarkan komunitas yang masih seumur jagung ini, sekaligus juga menjadi ajang kangen-kangenan untuk ledek-ledekan (itu sebab kita menyebut diri sebagai komunitas yang lucu), curhat (terutama seorang Nana Podungge yang narsis dengan tulisan-tulisannya), dll, tatkala kita sedang tidak kopi darat.

Sms tentu juga menjadi media utama untuk saling berkomunikasi, khususnya tatkala kita perlu berkumpul untuk rapat karena akan mengadakan event tertentu, karena kita menyadari bahwa tidak semua anggota bisa terhubung dengan internet setiap hari. (Sudah rahasia umum bahwa internet di Indonesia ini mahal dengan akses yang super duper lelet.)

Satu hari pak Trisna—salah satu pengurus b2w Semarang yang kebetulan bekerja di Telkom—menawarkan untuk berkomunikasi melalui ‘flexy milis’. Caranya, pak Trisna mencatat semua anggota yang memiliki nomor flexy, mendata satu per satu, dan hasil akhirnya adalah tatkala kita mengirim satu berita melalui sms di flexy milis, anggota lain pun akan mendapatkan sms tersebut. Sangat praktis dan tidak perlu terhubung dengan internet.
Sayangnya aku belum memiliki nomor flexy sehingga aku tidak bisa bercerita banyak bagaimana berkomunikasi melalui flexy milis ini. (Dan para peserta pelatihan pun berkomentar, “Wah, jangan khawatir mbak, sepulang dari sini mbak Nana bakal mendapatkan nomor flexy baru!” How nice, eh?)

Media berikutnya bagi kita untuk saling berkomunikasi adalah melalui Facebook. Namun berbeda dengan milis di yahoogroups, di FB komunikasi yang terjalin lebih ke personal, individual, tentang hal remeh temeh setiap hari, tidak melulu terkait dengan kegiatan bersepeda, atau bekaitan dengan kegiatan komunitas. Dengan adanya FB (dan lumayan banyak dari kita ikut menjadi FB addict), meski lama kita tidak saling bertatap muka, kita tetap bisa saling menyapa setiap hari.

Untuk sementara ini memang keempat hal itulah yang menjadi media komunikasi kita bersama: milis b2wsemarang di yahoogroups, flexy milis, sms (belum semua anggota memiliki nomor flexy), dan Facebook.

Selain melalui dunia maya, beberapa anggota yang punya nyali terlalu besar, terkadang menjaring anggota baru manakala mereka melihat seseorang yang berbusana seperti akan berangkat bekerja naik sepeda. Atau tatkala bertemu dengan cyclist lain pada hari Minggu pagi di kawasan Simpanglima atau Jalan Pahlawan. Para cyclist ini tentu yang kebetulan belum ikut bergabung dengan klub maupun komunitas lain.

Dari presentasi yang kusampaikan, aku menerima beberapa pertanyaan dari peserta, misal apakah anggota kita nge’gap’ antara yang kaya dan miskin, antara yang cerdas dan kurang, antara yang berpendidikan tinggi dan kurang berpendidikan, berkelas sosial tinggi dan menengah, dll. Alhamdullillah selama ini aku tidak melihat adanya ‘gap’ seperti ini, jadi kita semua berbaur menjadi satu tatkala mengadakan pertemuan maupun ‘touring’ (CNR, MCR—baca morning city ride, terutama pada hari Mingu pagi, cross country, dll).

Pertanyaan lain yang hampir senada yakni apakah ada keminderan bagi mereka yang memiliki sepeda yang ‘biasa-biasa saja’ (misal yang bukan bermerk GIANT atau POLYGON). Aku menunjuk diri sebagai contoh yang tepat: aku tidak merasa minder tatkala di awal bergabung, aku menaiki sepeda merk WINNER buatan awal tahun 1990an—mungkin merupakan generasi pertama MTB. Dan kulihat teman-teman tidak ada yang menunjukkan sikap, “Eh, sepedamu kuno yak?” LOL. Kalau pun ada tentu itu hanya untuk meledek, bahan bercanda saja.

Pertanyaan lain, “Apakah pantat terasa tepos setelah bersepeda dalam waktu lama?” LOL.
Masukan yang sangat bagus adalah apakah b2w Semarang sudah memiliki AD ART? Dimanakah kita mengemukakan visi dan misi b2w sehingga para anggota baru bisa langsung mengenali tujuan utama dibentuknya komunitas b2w Semarang. Dimanakah kita menulis program kerja yang akan kita lakukan, minimal selama satu tahun?

Di akhir kata, aku sangat senang mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman dalam hal berkomunitas ini. (mumpung kenarsisanku sedang muncul, jadi sangat menikmati menjadi pusat perhatian para anggota pelatihan. LOL.) sekaligus juga menunjukkan betapa kita pun bisa ikut menunjukkan kepedulian kepada lingkungan. Kebetulan ada salah satu peserta pelatihan yang sudah berbike to work di kotanya, meski di kotanya itu belum ada komunitas b2w.

Lebih senang lagi tatkala ternyata merchandise yang kuterima di akhir acara berupa sebuah hape Nokia 2505 CDMA, dan sebuah nomor flexy yang cantik.

Special thanks buat mas Agus Riyanto.

Terima kasih juga buat Aluizeus alias mas Triyono, dan anggota-anggota b2w Semarang lain. I love you all. As always.
PT56 23.13 020709

One response so far

Jul 04 2009

Nana Podungge on the Jakarta Globe

Published by afemaleguest under Weblogs

http://thejakartaglobe.com/lifeandtimes/blogging-in-english/313712

by Michelle Udem

Blogging In English
Michael Jubel Hutagalung, a Web designer based in Bandung, West Java, started Jubel and the Unessential, an English-language blog, primarily to improve his written English. The blog offers Hutagalung’s random musings on Indonesia’s politics and culture.

Within a year of Hutagalung starting the blog in October 2007, the traffic to the site was so high that it was exceeding the bandwidth limit on the platform he was using, and he had to move his blog to another host. The traffic explosion, mostly from Indonesians living abroad, gave him an incentive to do more than just improve his English skills.

“I want to tell the world what Indonesia’s really like — how the people really live,” Hutagalung said. But readers may not always get much on how Indonesians are living on an up-to-the-minute basis, or even about the day-to-day concerns of his countrymen.

Hutagalung last posted on Monday, after a two-month hiatus, filling readers in on his university plans and his personal debate in choosing between studying in London or the Netherlands.

The total number of Indonesian bloggers is difficult to quantify due to the constant deletion and activation of blog accounts. A top Indonesian-language blogger and internet publisher, Enda Nasution, says that Indonesia has about one million bloggers, based on blogger.com information, Wordpress information and blogs hosted personally — there are about 20 blogging communities in Indonesia, one in ever major city.

For Indonesians blogging in English, many are simply interested in trying to reach an audience beyond their own country and to give a perspective not available in the foreign media. Out of the 10 bloggers listed here, seven do not have a degree in English, nor have they studied abroad.

Budi Putra, a freelance writer and full-time, self-employed blogger living in Bintaro, South Jakarta, writes in English about new gadgets from an Indonesian perspective. Though many of his topics involve global technology news, he feels he provides a unique perspective as an Indonesian.

“My main demographic is both Indonesians and foreigners, especially those who love technology and digital life issues … Blogging is about conversation, so I want to talk to them through my blog. That’s why my blog’s tagline is ‘Talk With Me.’ ”

Hutagalung and Putra’s blogs focus on specific topics, but the majority of the Indonesians bloggers writing in English are diarists, who post as the mood strikes.

Devi Girsang, a 22-year-old medical student born, raised and living in Jakarta, operates the site “It’s My Life,” last updated May 5. With a tagline, “Love & Tears. Laugh & Cry. Achievements & Regrets. Welcome To My Life!” Girsang’s blog ranges from discussions on everyday topics such as poor customer service to inquiries on why people do bad things.

Such topics written from an Indonesian perspective and in English help readers realize that people worldwide run into the same problems and share the same emotional inquiries.

In another blog, “Republikbabi,” 23-year-old Calvin Sidjaja from Bandung posts updates about growing up with a mixed heritage in Indonesia. On his blog, Sidjaja discusses the role of mixed heritage Indonesians, such as Dutch-Indonesians and Chinese-Indonesians. He delves into the history of mixed heritages in Indonesia and how society views these people today.

“Many international students were helped because of the personal essays [on my blog],” he said.

But the Internet is not always the safest place to express personal and sometimes controversial opinions.

Girsang has “been accused of being an ‘American-wannabe’ from an anonymous commenter,” and Sidjaja notices how any type of neutral post he writes on religion always causes controversy.

Regardless of the hate mail and negative feedback, the bloggers find that voicing their thoughts and opinions in English is beneficial. “Though difficult to write in English, I like challenges. I love the rhythm of English words. It’s more personal and subjective,” Budi Putra explains.

To these bloggers, writing in English is their key to communicating to the outside world as they find freedom in abandoning their own tongue for just a few moments a week or month.

“Bahasa can be so difficult because of the formality of the language. I can express myself more casually in English” Girsang said.
These ten English-language blogs appear in the top 50 Indonesian blogs tracked by Web site www.indonesiamatters.com

Three Popular Blogs Written by Expats Living in Indonesia:

These three blogs written by expatriates living in Indonesia are ranked in the top six on blogs.indonesiamatters.com.

1. Brandon Hoover
thejavajive.com/blog
Consisting of high-resolution photographs, Brandon Hoover’s blog takes a look at Indonesia’s natural beauty and his life here as an American. Aesthetically pleasing, Hoover’s blog illustrates how Indonesia has influenced his thoughts and photography. A fan of Indonesia, Hoover’s blog provides an American’s perspective on the joys of living in the country.

2. Jakartass
jakartass.blogspot.com
Jakartass, written by a Westerner living in Jakarta, consists of witty posts chronicling the life of an expatriate in Jakarta. Posts on the blog discuss local news as well as personal experiences illustrating quirks in Indonesian culture. Most recent posts discuss power cuts in Jakarta and a list of books by bloggers. Information on Indonesian acronyms and slang words are found on the sidebar of the blog.

3. Treespotter
Treespotter.blogspot.com
Treespotter is a personal blog containing posts mostly on daily life in Indonesia and current, local events. Posts include idiosyncrasies in Jakarta culture, such as how there is always a place to smoke. The personal posts are both entertaining and in depth, while the posts pertaining to politics are written from an outsider’s point of view.

Ten Blogs by Indonesians Who Are Writing in English:

These ten English-language blogs appear in the top 50 Indonesian blogs tracked by Web site www.indonesiamatters.com.

1. Michael Hutagalung
michaelhutagalung.com
Web designer Michael Hutagalung maintains a blog that consists of his personal perspectives, his design portfolio and discussions on Wordpress themes and Indonesian social issues. His blog offers readers the opportunity to learn about the Wordpress program as well as read an Indonesian perspective on the upcoming election.

2. Budi Putra
budiputra.com
Blogger Budi Putra of this self-titled blog provides commentary on local news and technology gadgets. Mixing local technological news, such as Indonesia’s launch of digital TV, Putra also updates readers on more esoteric news such as the discovery of Indonesian sea horses. Technologically-savvy Putra comments on how information from the upcoming election will be broadcast via SMS.

3. Devi Girsang
devigirsang.blogspot.com
Attracting both Jakartans and foreigners, Devi Girsang’s personal blog gives insight into the life of a young, Indonesian medical student. Girsang blogs on topics ranging from laptop malfunctions to bus-riding etiquette. Girsang’s blog gives expatriates the opportunity to observe a young Indonesian’s experiences, while peers can relate or rebut Girsang’s critiques of Jakarta culture and society.

4. Merlyna Lim
merlyna.org/blog
Blogging from her home in Arizona, Merlyna Lim’s blog focuses on her craft as an artist and her thoughts on both Indonesian and American issues. In between posts of her personal drawings and collages, Lim touches on local topics such as the construction of urban space in Bandung and internationally relatable topics such as inequalities within society.

5. Martin Manurung
martinmanurung.com
Martin Manurung’s self-titled blog covers topical news issues in Jakarta. Providing his own commentary and critique of social, economic and political topics, Manurung tries to counterbalance foreign media reports that he feels are often “misleading.” Straying away from gossip, Manurung’s blog gives foreigners an inside look from a local’s perspective.

6. Calvin Michel Sidjaja
republikbabi.com
Touching on sensitive topics such as his search for his family tree and being of mixed heritage, Calvin Sidjaja’s blog consists of posts on his personal life and experiences. Sidjaja’s Indonesian heritage is a main theme of his blog, a topic that many young adults can relate to.

7. Ecky
cisayong-girl.blogspot.com
Known on her blog as Ecky, the blogger writes from Australia. Though she mostly posts on personal subjects such as shower rituals and the perks of being a woman, Ecky also writes about the difficulties that come with change and leaving the comfort of her home country, Indonesia. Ecky also posts topical news from Jakarta, such as the upcoming election and President Obama’s effect on Indonesians.

8. Carla Ardrian
socialindividualist.blogspot.com
Blogging on various topics from gardening to photography, Carla Ardrian provides an Indonesian perspective on everyday things. Accommodating her Indonesian readers, Carla posts innovative recipes and political commentary, while foreigners may be more attracted to her travel and cultural tips. One of Carla’s posts comments on her experience of receiving incorrect directions as a tourist in Bali.

9. Nana Podungge
afeministblog.blogspot.com
Nana Podungge’s most recent post on her blog, “A Feminist Blog,” discusses the topic of religion. Podungge considers herself a secular Muslim. Her religious views are mixed with the other main focus of her blog, a woman’s role in society. A unique combination, Podungge’s blog provides insight into controversial topics.

10. Martha
mamahit.net/blog
“Frank and Martha’s Blog,” written by Martha, captures the life of a young family in Jakarta. Martha’s updates illustrate the charms shared by all families worldwide, such as receiving her first written letter from her elementary school-aged son. Chronicling the life of a mother, Martha shares her thoughts on baking experiences, the workplace and raising a young child.

No responses yet

Dec 21 2008

Maron: Bercinta dalam lumpur

Published by afemaleguest under b2w

Setelah mengikuti ‘kampanye bersepeda’, beberapa anggota b2w—Triyono, Ndaru, Agung, Eka, Yoni, Drajat, Hidayat, Kholik, Nasir dan aku sendiri—melanjutkan nggowes ke Pantai Maron yang terletak tidak jauh dari bandar udara Ahmad Yani Semarang. Mengingat hari-hari terakhir ini hujan turun setiap hari di Semarang, yang nota bene matahari jarang bersinar, aku sudah memperkirakan medan off-road setelah lepas dari kawasan bandara akan menjadi sangat berlumpur, mungkin ada kubangan air di sana sini, sehingga menjadi sangat menantang bagi mereka yang melewatinya.

Perjalananku terakhir ke Pantai Maron yakni tanggal 23 Nopember. Meskipun sudah memasuki musim hujan, seingatku pada hari Sabtu 22 Nopember, seharian tidak turun hujan, dan matahari lumayan bersinar. Itu sebabnya meskipun jalannya licin di sana sini, masih ‘enak’ dilewati.

Namun perjalanan ke Maron tanggal 21 Desember ini meninggalkan kesan yang jauh lebih mendalam karena beberapa hal, selain karena seorang Agung Tridja ikut kali ini. (Dasar narsis, sebelum pulang dia sempat berbisik kepadaku, “Pokoknya event apa pun akan sangat berkesan kalo aku ikut!” LOL.)

Pertama berbelok ke areal off-road, teman-teman yang berada di belakangku (aku berada di depan karena aku sudah berpengalaman ke Maron beberapa kali) bersorak gembira, “Akhirnya kita sampai juga ke areal yang kita rindui!”

Baru beberapa meter berjalan, kita bertemu dengan banyak orang yang sedang berjalan berlawanan arah dengan kita. “Jalanan buruk mbak, ga bakal nyampe ke pantai! Mending berbalik saja!”

Aku tersenyum sambil menjawab, “Terima kasih.”

Kadang aku berkata, “Oh? Di sana jauh lebih buruk ya kondisinya?”

Ketika bertemu dengan seseorang yang dengan terang-terangan memprovokasi aku untuk kembali, sekaligus menunjukkan pesimisnya bahwa aku akan patah semangat di tengah jalan, aku bilang, “Ya gimana ya? Tuh teman-teman di belakang saya malah suka dengan kondisi jalan yang seperti ini!”

Klakep. LOL

Sesampai di separuh perjalanan, dimana ada sebuah jembatan yang menghubungkan jalan menuju ke sebuah perumahan, jalanan semakin memburuk. Tanpa kuketahui sebagian dari kita ada yang mengambil jalur kiri, termasuk mas Nasir, my savior dalam perjalanan XC ke Kedungjati.

Aku sempat hampir patah semangat tatkala kaki kiriku terperosok ke lumpur, seluruh sepatu kiriku terbenam. Eka yang berada di belakangku tak henti-hentinya menyemangatiku, “Ayo mbak Nana, angkat kakinya, lanjutkan perjalanan. Kayuh terus pedalnya, jangan lupa stel girnya agar kayuhan ringan.” Ketika melihatku lebih memilih menuntun sepeda (aku mulai kehilangan kepercayaan diri bahwa aku mampu menaikinya), Eka pun menawarkan sepedanya kunaiki, “Mbak Nana naik sepedaku aja. Ini bannya mencengkeram!” Dan ternyata benar. Enak sekali nggowes di jalanan berlumpur seperti itu menaiki sepeda hasil rakitan Eka sendiri ini.

Beberapa saat kemudian aku baru menyadari beberapa dari kita—Triyono, Nasir, Hidayat, dan Drajat—memilih jalur kiri, yang konon katanya kondisinya tidak ‘semengerikan’ jalur kanan. I was a bit unhappy for this karena ‘saingan’ berebut untuk bernarsis ria di depan kamera akan berkurang. LOL. “Kita ga bisa foto bareng nanti di pantai!” rajukku, sambil setengah berteriak, agar mereka mendengar.

“Lha gimana lagi? Jalanan di situ parah banget!” komentar mas Nasir, setengah berteriak pula.

Beberapa saat kemudian …

Setelah melihat air laut yang membiru dari kejauhan, menandakan bahwa ‘etape’ pertama kita akan berakhir, uh … leganya hatiku. LOL.

“Jalanan becek berlumpur dan licin yang berat dilalui ini setara dengan lima tanjakan!” kata Agung hiperbola. LOL.

Wah, aku lebih memilih jalanan becek berlumpur ini Gung, dibandingkan lima tanjakan yang setinggi Gombel. LOL. Aku pun lega Darmawan tidak jadi ikut karena istrinya ga berani ‘menanggung resiko’. Poor her kalau harus berjuang melawan jalanan seperti ini.

Baru kali ini aku melihat pantai Maron sepi pengunjung. Warung penjaja makanan dan minuman pun hanya ada dua yang buka.

Perjalanan menantang yang cukup melelahkan ini, meskipun tidak jauh, telah membuat perut kita kelaparan. Apalagi aku yang lupa membawa minum. I was very thirsty!

“Tahu ga mbak, beda antara enak dan lapar itu tipis?” kata mas Ndaru, waktu kita menunggu pesanan makanan kita datang.

“Well, orang bilang lapar adalah lauk yang paling lezat..” jawabku.

Ini adalah kali pertama aku makan di salah satu warung di Pantai Maron. Maklum, untuk melanjutkan ‘etape’ yang kedua—yakni balik lagi ke jalan raya—kita semua tentu butuh asupan makanan dan minuman yang cukup.

“Will you directly post this in your blog tonight?” tanya Agung, sebelum kita melanjutkan perjalanan.

“How about if I write a poem for this?” tanyaku balik.

Agung manggut-manggut sambil bilang, “Bercinta dalam lumpur…”

“Hey … that’s a superb idea!” komentarku.

(Namun ternyata meskipun telah nongkrong di depan monitor beberapa lama, tak jua muncul kata-kata yang bisa kupakai dalam puisiku, sehingga aku malah menulis ‘laporan perjalanan’ ini dalam bentuk esei.)

Kholik yang ada keperluan telah meninggalkan kita berlima seusai makan. Namun ternyata, dalam perjalanan balik, dia kurang beruntung, ‘letter S’-nya patah. Itu sebab tak lama kemudian kita berlima telah menyusulnya. Segera Eka mengeluarkan peralatan yang dia miliki, setelah kita memilih satu tempat di pinggir, di atas rumput. Aku menonton sambil terkagum-kagum karena yang bisa kulakukan dengan sepeda hanyalah menaikinya. LOL. Agung dengan cekatan melakukan ini itu. Mas Ndaru membantu memberi instruksi ini itu. Demikian juga Eka. Sedangkan Yoni ngadem di bawah rerimbunan, takut warna kulitnya tambah gelap, LOL, karena pada saat itu, sekitar tengah hari, matahari mulai memancarkan sinarnya.

Kholik dan Agung ...

Kholik dan Agung ...

Cukup makan waktu lama untuk membuat sepeda Kholik bisa dinaiki secukupnya. Sementara itu ternyata dia telah menelpon seseorang untuk menjemputnya yang kemudian datang naik sepeda motor. Sepedanya pun dia taruh di tengah.

Tak lama kemudian, sepeda Yoni yang hampir mengalami peristiwa yang hampir serupa dengan Kholik. Bedanya adalah Yoni segera menyadarinya, sehingga bisa segera pula dibetulkan, di bawah instruksi Eka, sehingga tidak sampai ‘letter S’-nya patah.

Tatkala menunggui kedua kakak beradik ini, aku sempat meprovokasi sepasang kekasih untuk kembali ke jalan raya saja, karena terlihat keragu-raguan di wajah kedua orang tersebut. Apalagi kulihat si perempuan mengenakan sepatu ‘feminin’ berhak sekitar 3 cm lancip.

“Sepatumu dilepas saja,” kata si laki-laki. “Lihat saja jalanan seperti ini.” Mungkin terbayang kalau dia terpaksa meminta kekasihnya turun dari motor.

Si perempuan ragu-ragu.

“Ya, lebih baik sepatunya dilepas saja.” Kataku, ikut campur. LOL. “Sayang kalau kotor, apalagi rusak,” kataku lagi.

“Tuh kan …” kata si laki-laki berusaha meyakinkan kekasihnya.

“Atau lebih baik lagi balik aja ke jalan raya. Kondisi jalan di sebelah sana jauh lebih ‘buruk’ dibandingkan kondisi jalan di sini,” provokasiku.

Aku ingat provokasi orang-orang tatkala aku mulai memasuki medan ‘off-road’ gagal total menghentikan gowesanku.

Namun provokasiku berhasil dengan mudah. LOL. Si lelaki pun segera memutar sepeda motornya. Kembali ke jalan raya.

Setelah Yoni dan Eka berhasil membetulkan gir sepedanya, kita bertiga segera menyusul Agung dan mas Ndaru yang terheran-heran ada apa kok kita tertinggal lumayan jauh.

Sesampai di jalan raya, kita berlima sepakat mencari tempat cuci sepeda motor, agar sepeda kita bisa segera dibersihkan. Kita menemukan tempat itu di sebuah gang Anjasmoro, setelah bertanya kepada seorang tukang parkir di Jalan Anjasmoro Raya. Kebetulan yang memiliki usaha sedang ‘nganggur’ alias tidak ada pasien, sehingga sepeda-sepeda kita pun segera ditangani. Semula si Bapak pemilik usaha akan menolak, karena belum pernah mendapatkan ‘sepeda’ sebagai pasien. Namun, ternyata mas Ndaru’s authoritarian voice (baru tahu aku ternyata dia memiliki kemampuan para politisi ini LOL) membuat si Bapak menerimanya without any reservation. LOL. Untung di depan tempat cuci sepeda motor ini ada sebuah warung kecil tempat kita bisa nongkrong, minum dan makan snack, sambil ngobrol.

Untuk ‘lebih melengkapi’ kesan perjalanan kali ini, ban sepeda mas Ndaru bocor!!!

Menunggu proses cuci sepeda lima biji ini ternyata lumayan lama. Agung sempat pamer tubuh (bagian atas doang!!!) karena ga tahan panas. Angin sepoi-sepoi yang kadang berhembus membuat mata pun mengantuk.

“Ingat ga waktu kecil dulu kita paling malas kalau disuruh tidur siang? Kalau ga tidur siang, nanti dislentik telinganya!” kata mas Ndaru.

Aku langsung ketawa ngakak karena ingat masa kecil dulu. Seingatku aku ga pernah membangkang kalau disuruh tidur siang. Tapi kakakku pernah punya ‘kasus’ dengan bokap gara-gara ga mau pakai sandal. Kita diharuskan memakai sandal, meskipun berada di dalam rumah, demi menjaga kebersihan kaki dan kesehatan tubuh. Kakakku paling malas memakai sandal hingga satu hari bokap marah-marah waktu pulang dari kantor. Melihat kakakku tersayang dimarahi, aku pun menangis keras-keras. Bokap pun heran; orang yang dimarahin kakaknya, ini kenapa si adik yang nangis? LOL. Nyokap yang mencup-cup aku pun bilang, “Yang dimarahin bukan Nana kok. Udah cup diem.” Aku tetap saja menangis, sehingga bokap pun akhirnya berhenti marah. LOL.

“Betapa enaknya tidur siang itu. Nyesel deh kenapa waktu kecil dulu aku suka mbeling kalau disuruh tidur siang. Maunya main melulu. Sekarang? Tidur siang di kantor jelas diomel-omelin bos. Bisa tidur siang adalah sebuah anugrah …” Kata mas Ndaru lagi lebih lanjut. LOL.

Ban bocor sepeda mas Ndaru ditangani sendiri karena kebetulan dia membawa persediaan untuk menambal ban bocor, dan Eka membawa pompa kecil yang dari jauh nampak seperti vibrator. Wakakakaka … (Suwer, aku ngelihatnya HANYA di salah satu serial “Sex and the City”, belum ngeliat yang asli. LOL.) Ajaibnya, yang melakukan penambalan adalah Yoni. (Yon, kamu bisa buka usaha tambal ban! LOL.)

“In this off-road trip, Eka is your savior…” kata Agung, sebelum kita meninggalkan tempat.

“Yup, you are absolutely right!” jawabku.

Aku bersyukur tempat tinggalku tidak jauh dari Anjasmoro. Yoni dan Eka lumayan masih harus menggowes sepedanya dalam waktu beberapa lama. Agung dan mas Ndaru yang perjuangannya paling ‘poll’, karena tinggal di ujung Semarang bagian Tenggara.

*****

Malamnya mas Nasir datang ke rumah untuk mengambil kaos jersey b2w Semarang yang masih ada lima biji di tempatku. Teman-teman kerjanya tertarik untuk membelinya. “Hikmah city tour,” kata mas Budi Seli.

Dari perbincangan sejenak aku tahu bahwa keempat orang yang mengambil jalur kiri gagal mencapai laut karena suatu ‘rintangan’. Demi kemaslahatan bersama, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali.

PT56 23.45 211208

3 responses so far

Dec 21 2008

Kampanye bersepeda di Semarang

Published by afemaleguest under b2w




Ada program khusus yang diselenggarakan pada hari Minggu 21 Desember 2008: KAMPANYE SIMPATIK bersepeda yang diikuti oleh tiga komunitas sepeda di Semarang: SOC (Semarang Onthel Community) sebagai pencetus ide, bike to work Semarang, dan SLOWLY (Semarang lowly rider).
Ketua SOC, Bob mengemukakan ide ini untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan b2w setelah kedua komunitas ini di’feature’kan di sebuah surat kabar nasional, di bagian lokal Jawa Tengah beberapa waktu lalu. Merasa bahwa kedua komunitas memiliki visi dan misi yang mirip, maka ide untuk menyelenggarakan kampanye ini pun dikemukakan. ‘Slowly’ diundang oleh SOC tentu karena memiliki visi dan mirip yang serupa.
Komunitas b2w memilih berkumpul di SMA 1 Semarang sekitar pukul 06.00, untuk kemudian secara bersama-sama meluncur ke tempat yang telah disepakati bersama SOC; yakni di Lawangsewu. Setelah event BIKE TO WORK DAY, baru kali ini b2w mampu mengumpulkan member dengan jumlah yang lumayan, sekitar 50 orang; terdiri dari anggota lama maupun baru.
Sekitar pukul 07.00 b2w meluncur ke Lawangsewu, yang terletak kurang lebih sekitar 3 kilometer dari meeting point semula. Di sana beberapa anggota SOC dan ‘slowly’ telah menunggu. Semakin siang semakin banyak anggota kedua komunitas tersebut yang datang.
Setelah memberi kesempatan beberapa reporter dari beberapa media untuk melakukan wawancara, kita semua mulai melakukan ‘city tour’. Dari Lawangsewu/Tugumuda, kita mengambil rute Jalan Pandanaran, Jalan Thamrin, belok ke Kampung Kali sampai ke Jalan Mataram, belok kiri, lurus sampai bundaran Bubakan, masuk ke kawasan Kota Lama, lewat Gereja Blenduk, kemudian di jembatan Mberok belok kanan, menuju Polder yang terletak di depan Stasiun Tawang. Di sini ketiga komunitas diwakili oleh masing-masing ketua/wakil ketua saling memperkenalkan komunitas masing-masing yang ternyata intinya tidak jauh beda: menggunakan sepeda sebagai moda transportasi untuk keperluan sehari-hari: demi mengurangi polusi udara dan ketergantungan kepada BBM. Yang membedakan ketiga komunitas yakni jenis sepeda yang dipakai dan para anggotanya: SOC menggunakan sepeda jenis ‘lama’ (single speed) yang diproduksi sebelum tahun 1980-an, anggotanya biasanya orang-orang berusia tigapuluh tahun ke atas; ‘slowly’ menaiki jenis sepeda mini yang populer sekitar tahun delapanpuluhan, dengan modifikasi tertentu, para anggotanya kebanyakan para pelajar, mulai dari mereka yang duduk di bangku SMP sampai perguruan tinggi; sedangkan anggota b2w kebanyakan menggunakan jenis sepeda gunung, alias MTB yang mulai populer tahun 1990-an, meskipun b2w tidak membatasi jenis sepeda yang dipakai; para pekerja yang bersepeda ke kantor, menggunakan jenis apa aja, bisa bergabung dengan komunitas b2w. Sampai sekarang anggota b2w Semarang kebanyakan adalah para pekerja, meskipun kita tidak membatasi ‘hanya untuk para pekerja saja’.
Mengacu ke b2w Jogja yang merangkul beberapa komunitas ke dalamnya (misal para ‘onthelist’ dan ‘slowly’) sebagai para pengguna sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari, sudah selayaknya ketiga komunitas di Semarang ini pun melebur menjadi satu; hanya saja terbagi ke dalam beberapa kelompok kecil—onthelist, MTBers, dan pengguna sepeda mini.
Direncanakan di masa yang akan datang, ketiga komunitas akan menyelenggarakan acara yang serupa, untuk menjaring lebih banyak lagi anggota.
Nana Podungge
Sekretaris 1 b2w Semarang
PT56 22.00 211208

Untuk foto-foto lain, klik saja

http://mastunggal.multiply.com

http://trextion.multiply.com

http://b2wsemarang.multiply.com

No responses yet

Dec 18 2008

Visiting Jogja

Published by afemaleguest under b2w, daily

I visited Jogja on November 29-30 with some b2w friends of mine. :) Here are a few pictures of the occasion. :)

One of my dream-come-true … mejeng di depan tulisan UNIVERSITAS GADJAH MADA di atas sepedaku!!! :)

di UGM

di UGM

Di depan Benteng Vredeburg!

vredeburg

vredeburg

Bareng teman-teman di Tamansari

Tamansari

Tamansari

Tamansari

Tamansari

di Tamansari juga

di Tamansari juga

Di Pemandian Putri Tamansari

Ramai-ramai di pemandian putri

Ramai-ramai di pemandian putri

No responses yet

Nov 28 2008

Bersamamu

Published by afemaleguest under Angie, poems

Bersamamu
Hari-hariku lebih berwarna
Kau buat langit tak hanya berhiaskan
Warna biru cerah
Namun penuh bianglala
Dari ufuk lazuardi yang satu
Ke kaki langit yang lain

Bersamamu
Kuresapi makna sebagai seorang perempuan
Bermain dalam buih kehidupan
menikmati cinta yang tercurah
Menghayati lelah yang menyapa
Kala malam tiba
Sembari menikmati wajahmu nan damai

Bersamamu
Terkadang aku tergores tanya nan pedih
Terluka kah engkau atas kekeraskepalaanku
Karena keangkuhanku
Bahwa aku tak seperti perempuan lain?

(dan kutawarkan warna hitam dan kelabu
dalam hidupmu yang masih belia)

SPB 14.15 191108

No responses yet

Nov 28 2008

A surprise …

Published by afemaleguest under b2w, daily and tagged:

A very beautiful and loving surprise

Hari sabtu adalah hari yang kutunggu-tunggu, karena hari itu adalah hari terakhir bekerja, dan aku bisa tidur awal setelah pulang, tanpa perlu merasa terbebani bahan mengajar di keesokan hari. Hari sabtu sekaligus juga merupakan hari yang paling melelahkan, tenagaku tinggal sisa-sisa doang, setelah bekerja sejak hari senin.

Setelah hampir seminggu feeling blue without any clear reason, (padahal aku ga sedang PMS loh!) hari sabtu kemarin aku ingin jam enam segera datang, agar aku bisa segera pulang, mandi, dan … menikmati hangat dan empuknya kasur, guling, plus bantal, sembari menikmati kicauan anak semata wayangku. LOL.

Sekitar pukul 17.40, kuterima sms dari Iput, “Invitation! Farewell party mas tyo/dude, ntar jam 18.00 di rumah om budi seli, puspowarno, + pembagian award, mohon datang tepat waktu.” Serasa aku mendapatkan suntikan energi entah darimana, aku jadi merasa begitu alive, dan kasur yang hangat dan empuk pun menjadi kurang menarik. (spending time with my dear b2w friends is mostly my favorite time, besides swimming, of course. )

Aku sampai di rumah mas Budi sekitar pukul 19.00 (molor poll yah? hahaha … aku rencana mau langsung ke sana sepulang dari Tembalang. Tapi, karena mengharapkan akan ada CNR setelah itu, aku pikir sebaiknya aku pulang aja dulu, trus ganti baju plus naik sepeda. Rencana jadi agak molor setelah Angie bilang, “Mama mandi dulu dong! Masak setelah seharian pergi ga mandi sebelum pergi lagi?”), mas Tyo yang jadi lakon utama malam itu yang membukakan pintu pagar tatkala aku datang. Dari sorot matanya kulihat dia begitu bersedih, karena demi masa depannya, dia harus pergi begitu jauh, meninggalkan keluarga, plus teman-temannya. Aku jadi ikut ngelangut ngelihatnya.  but at least, keinginanku untuk bersalaman dengannya (kok jadi kayak selebriti aja dia? hahaha …) dan secara langsung mengatakan, “Met jalan … semoga sukses mendulang dolar di negeri orang …” kesampaian, ga hanya lewat milis, maupun sms.

Di ruang tamu yang mungil itu sudah ada Maya, Iput, Eka, Zacky, dan Darmawan, selain Tyo. Yang punya rumah malah pergi karena harus menghadiri suatu acara. Tidak ada hidangan spesial yang mengatakan bahwa acara ini diadakan secara mendadak (lha wong paginya aku dan mas Tyo sempat berkirim sms sejenak, dia ga bilang apa-apa tentang acara gathering ini). But it did not matter, yang penting kita ngadain acara berkumpul untuk ‘nguntapke’ alias to say goodbye formally, secara organisasi, kepada mas Tyo.

Setelah Lila dan mas Nasir datang, acara dibuka oleh Darmawan. (Ga nyangka bakal ada susunan acara, sambutan-sambutan, padahal beberapa bulan lalu waktu sibuk rapat untuk mengadakan BIKE TO WORK DAY 29 Agustus 2008 kita ga pake acara pembukaan, laporan notulen oleh sekretaris, de el el…) Aku sempat heran, “Weleh, serius to ki?” LOL. Sambutan pertama diberikan oleh mas Nasir, mewakili organisasi b2w Semarang. Sambutan kedua diberikan oleh mas Tyo, yang akan pergi. Dia mampu berbicara sepatah dua patah kata tanpa menitikkan air mata, LOL, meskipun dari sinar matanya aku masih melihat rasa haru dan berat untuk meninggalkan organisasi yang baru dia ikuti selama beberapa bulan.

Acara selanjutnya adalah pengumuman pemenang award.

Swear, aku pikir Darmawan cuma bercanda. Lah wes piye? Aku kan termasuk pengurus inti b2w Semarang, karena aku bisa dikategorikan pioneer tatkala beberapa orang mendeklarasikan berdirinya b2w Semarang pada tanggal 26 Juni 2008. Masak ada acara sepenting itu—pemilihan salah satu member b2w Semarang yang dianggap konsisten dengan berbike to work sebagai somewhat ‘role model’ bagi member yang lain, cie … duwur banget je!!! LOL—aku sebagai pengurus ga tahu?

Aku pikir organisasi akan memberikan kenang-kenangan buat Tyo sebelum dia pergi. (biasanya ibu-ibu PKK itu memberikan kenang-kenangan kepada salah satu warga yang pindah ke daerah lain!) selain juga karena setahuku Tyo sangat konsisten dengan berbike to work, selain pak Wargo yang telah kujadikan ‘feature’ di blog ku, bahkan artikelku itu diterbitkan www.superkoran.info juga.

Waktu Darmawan bilang,

“Setelah memilah dan memilih dari segenap anggota b2w Semarang, ada tiga nominator utama. Yang pertama mas Tri …”

Aku langsung berpikir, “Wah … bercanda nih!!!” bukan karena apa-apa. Kalau parameter-nya adalah kekonsistenan berbike to work, mas Tri kalah dong dengan yang lain, terutama dengan pak Wargo dan mas Tyo.

“Alasannya … karena dia rajin posting di milis …”

Tuh, ga nyambung kan? Aku cuma tersenyum mendengarnya.

“Nominator yang kedua … Firman…”

Aku langsung berpikir (I am quite a quick thinker! LOL), “Karena Firman adalah ketua b2w Semarang, dan dia lah yang memiliki contact langsung dengan b2w Indonesia (Jakarta).”

Darmawan melanjutkan, “Kebalikan dengan mas Tri, karena Firman jarang nongol di milis…!”

Langsung meledaklah tawaku.

“Lucu … lucu!!!” teriakku. (NOTE: sebelum itu karena banyolan Darmawan, Iput pun memberikan topik gathering kita, “ben lucu!”)

“Nominator yang ketiga … saya sendiri…” lanjut Darmawan.

Ketawaku tambah keras. Aku semula berpikir nominator yang ketiga adalah mas Tyo, kemudian dialah pemenangnya, untuk memberikan kenang-kenangan sebelum dia pergi. Pernyataan Darmawan, “ … saya sendiri …” merupakan hal paling lucu yang kudengar malam itu. Itu sebabnya, aku langsung nyahut, “Pemenangnya akan … diguyur dengan air!!!” sambil tetap tertawa-tawa.

Darmawan langsung berkomentar, “Bener loh ya mbak, entar pemenangnya diguyur air!!!”

Aku langsung merasa ada yang ga beres. My sixth sense mengatakan, secara tidak langsung, Darmawan bilang, “You will be the winner. You will be showered by water!”

Namun karena aku juga berpikir Darmawan sedang ingin menghibur Tyo yang akan pergi, yang terlihat muram semenjak aku datang, aku tetap berpikir Darmawan bercanda.

Ujar Darmawan berikutnya, “Namun berhubung kedua nominator lain tidak hadir malam ini, dan saya menjadi satu-satunya nominator yang datang, maka menjadi tidak adil kalau hanya saya yang menjadi calon pemenang. Untuk itu, panitia memutuskan untuk mengangkat nominator lain, yakni mbak Nana …”

Nah!!

“Setelah melalui diskusi yang cukup alot, panitia memutuskan yang mendapatkan award adalah mbak Nana!!!”

Mendengar kalimat Darmawan tersebut, aku tetap tertawa-tawa, (hah, ternyata teman-teman pengen ngguyur aku pake air toh? LOL) tatkala tiba-tiba Maya dan Iput menggiringku keluar dari ruang tamu menuju teras, sembari menutup mataku. Aku membayangkan di luar aku akan diguyur air (ealah, apa salah dan dosaku? Kok aku dikerjain kayak gini? LOL.) Atau akan adakah kejutan lain di luar?

Sesampai di luar, Iput melepaskan tangannya dari mataku, sambil menunjuk sebuah sepeda kepadaku, “Hadiah buat mbak Nana … sebuah sepeda baru yang bisa mbak Nana naikin ke kantor, maupun ikutan cross country bersama teman-teman!”

H-A-H!!!

I was extremely surprised!!!

Very-very surprised.

Aku masih berpikir teman-teman bercanda, dan kompak ngerjain aku. (Piye toh, lha wong sing meh lungo adoh mas Tyo, kok sing dikerjain aku???)

“Serius nih, sepeda ini buatku?” tanyaku ga percaya. “Bercanda nih…”

“Piye toh, orang kita merencanakannya selama berhari-hari kok dianggap bercanda!” sahut Darmawan.

“Why me?” tanyaku, tetap tak percaya.

“Alasannya akhiran katanya a. Kalo alasane, akhiran katanya e.” Jawab Darmawan, tetap bercanda.

Kemudian aku langsung ditodong untuk mencoba menaiki sepeda itu, putar-putar di sekitar Puspowarno X.

S-U-R-P-R-I-S-E!!!

Dan aku pun menjadi bintang utama malam itu. (dan bukannya Tyo. Hehehe …)

Kita akhiri gathering dengan berbondong-bondong ke jalan Gajahmada, menyambangi jualan nasi pecel. Maya menaiki sepeda WINNER ku sampai rumah, sementara aku dipaksa naik sepeda yang baru.

Paginya (semula aku rencana mau berenang di hari minggu 23 Nop. 08, as usual when I am feeling blue, I want to be alone, away from the crowd) aku ikut pit-pitan ke pantai Maron, ‘ngreyen’ sepeda baruku di tempat becek-becek. My feeling blue reduced a bit.

I am surrounded by loving and caring big family of b2w Semarang community.

Thank you for the loving surprise, dear friends. I really appreciate and feel proud of our brotherhood and sisterhood as well as togetherness.

I love you all.

– Nana Podungge –

PT56 23.16 231108

P.S.: I am still curious to know the mastermind of this surprise anyway. Hello anybody, will you tell me?

The orange bike below is my new bike.

No responses yet

Nov 28 2008

Into the Wild

Published by afemaleguest under daily and tagged:


This movie is based on Jon Krakauer’s book that tells us about the true story of Christopher Johnson MacCandless who was born on February 12, 1968 and died on August 18, 1992. Getting very disappointed by his own parents, Chris (Emile Hirsch) left them and his younger sister, Carine, (Jena Malone) as well after graduating from Emory College, where he studied only to make his parents happy, and not to pursue his own ideal. The disappointment to his parents was supported by his sickness to hypocrite society. This made him leave the crowd of people and go INTO THE WILD.
Some favorite scenes and conversations of mine in the movie are:

“Some people feel like they don’t deserve love. They walk away quietly to the empty space trying to close the gaps with the past.”

Apparently Chris talked about himself; he left his family since his parents’ problematic marriage and their trying to cover it from public as well as from the children made him label the parents big hypocrites. By saying the aforementioned statement, he realized that his parents loved him. However, his deep disappointment toward them made him feel he did not deserve the love. Therefore, he disappeared quietly from his parents’ life. He was pursuing his own happiness in the wild. He did not use the name his parents gave, and named himself as Alexander Supertramp; he even simply told some people he met during his journey that he did not have family.
Hypocrisy in society has been one mainstream topic in my blog. Examples: people who let themselves trapped in a loveless marriage only because they live in marriage-oriented society; many in that kind of marriage, women become the main victims (just like what is illustrated in this movie), then the children. People (mainly women) who think that they are luckier since they find men who are willing to marry them and feel sorry for single (moreover old maids) women, while in fact deep down in their hearts they envy those free women. People who have children not because they love having offspring but only for their own pride and selfishness.

“… get rid of this sick society. Why people, every fucking person is so bad to other people, so fucking awful. It doesn’t make sense to me; judgment, control, all that whole spectrum…”

What happened to Chris’ parents—to be hypocrites, Chris said—was also for the sake of judgment from society—to be considered happy and romantic family while in fact inside, Billie, the mother was bruised. (Why do women always become victims?)
Some people feel like they have full rights to make judgment to other people, to say what is good what is bad using their own eyes, without trying to view things from different point of view.

No responses yet

Oct 21 2008

U S I L

Published by afemaleguest under daily and tagged: ,

Tatkala membaca sebuah tulisan di www.superkoran.info tentang ibu-ibu Indonesia yang suka usil bertanya, “Kapan menikah?” untuk mereka yang masing single—terutama untuk kaum perempuan yang sudah “mendekati” atau bahkan “memasuki” usia yang konon dianggap “rawan”. Say it 30 years old. Setelah menikah, pertanyaan usil berikutnya adalah, “Kapan punya anak?” (blog si penulis bisa diakses di http://rimafauzi.com/blogs/ aku teringat pengalamanku sendiri. Well, not exactly the same, but similar lah. (kebiasaan buruk yang ditularkan oleh Abangku, menulis dengan bahasa gado-gado, English plus Bahasa Indonesia. Dan hasil ‘perenungan’ sendiri tentang tidak ada salahnya membentuk ‘Indoglish’ hehehehe … si Nana N-G-E-L-E-S!!!)

Pengalamanku begini.

Aku kebetulan tidak pernah mengalami ditanya orang-orang usil dua pertanyaan yang ditulis Rima di atas. Well, aku married usia 23 tahun (akhirnya Nana mengaku!!! Hahahaha …) Setahun kemudian aku melahirkan my Lovely Star. Aku tidak mengalami mendekati maupun memasuki usia rawan bagi seorang perempuan yang belum menikah. Lha wong sebelum usia itu aku telah mengalami kedua hal tersebut.

I got divorced in 2000.

Nah, pertanyaan usil orang yang tidak mengetahui latar belakang my marital status pun bermunculan. “Loh, ternyata Ms. Nana sudah punya anak toh? Udah gedhe lagi. Kok cuma satu?”

“WHAT IS WRONG WITH HAVING ONLY ONE KID?”

Rasanya aku ingin berteriak bertanya balik seperti yang kutulis di atas. LOL. (“Sabar Bu!!!” goda Angie. Hahahaha …)

Sekali orang bertanya seperti itu, aku mungkin menganggapnya hanya angin lalu. Namun setelah semakin banyak orang bertanya, aku pun semakin kesal. Sampai akhirnya aku menemukan satu jawaban usl (bagi orang yang suka usil nanya, boleh dong dijawab usil pula! Hahahaha …)

“Well, I am still looking for the perfect guy to donate his sperm!!!”

Xixixixixixi …

Dan, ternyata jawaban usil ini cukup ampuh to silent people.

“What’s wrong with Angie’s dad?” kadang ada orang yang masih punya guts to ask me further. Kujawab, “That is just not creative to have more than one kids from the same guy. Don’t you agree with me?” hahahahaha …

I somewhat feel reluctant to disclose my marital status (actually) because I HATE to be asked some more nosy questions, or, pitiful expression in people’s faces. (It seems like it is a very weird thing in Indonesia that single parents are even happier than those who are ‘tied’ in a loveless marriage.)

Teringat tahun 2004 lalu, seorang teman kuliah melahirkan anak keduanya, padahal setahun sebelumnya she just got her first baby. I congratulated her. Tak disangka, dia bertanya, “So, mbak Nana kapan dong punya anak yang kedua?”

“Well, I haven’t found the perfect guy yet to plant his seed on me!!!” jawabku cuek.

Melongolah dia. Wakakakakaka …

“Excuse me? Can you say that again?” tanyanya.

Aku ogah dengan ‘interogasi’ masalah privacy begini, so kutinggal saja teman kuliahku itu. Sementara Juli, that soulmate of mine, sembari ketawa ngakak, menjawab pertanyaan itu, “Don’t listen to mbak Nana. She is still error now!!!”

Kalo aku punya anak lagi …

Angie akan tersaingi. (I am not sure if she’ll love to get a rival to get my love. LOL. N-G-E-L-E-S again!!! LOL)

I have to work harder.

I’ll be busier. (Lha wong sekarang aja aku udah ga punya waktu lagi buat berkreatif ria menulis artikel!!! )

I cannot resume my study again probably.

Persis seperti yang dulu diungkapkan oleh Prof. Hall, salah satu dosen tamu dari Michigan, “You’ve got to choose to have a baby or to buy a car or a house; to have a baby or to continue your study! A somewhat westernized way of thinking.”

There is nothing wrong with it, I suppose.

What’s your experience in facing those so-called nosy questions that are very “Indonesian culture”? (I have written a lot of in my blog at http://afeministblog.blogspot.com )

LL 16.57 211008

2 responses so far

Oct 18 2008

Saturday 18 October 2008

Published by afemaleguest under daily and tagged:

I have some spare time after finishing teaching at 12, in one branch in Tembalang. I will teach again at 4 later. Since there is a cyber cafe next to the office, I dropped by here, checking mailboxes, reading some posts in some mailing lists I join, etc.
I haven’t had a chat with my Abang for some time so I greeted him at YM. But today seemed not my lucky day. He was nowhere to be found. Perhaps he is visiting a gathering in one friend’s house of his there.
Well, usually when I have some free time like now, I made myself buy scrabbbling in the cutie (note: this is the cute nick I chose to give the cute notebook my Abang gave me). However, it was broken several weeks ago. I don’t know where I can bring the cutie to get service. (The cutie is absolutely not Indonesian-made.) I suppose I had better wait for my Abang to come to Indoensia.If I am lucky perhaps he will spare his time to visit my hometown. (Several places he wants to visit, such as Kelenteng Tay Kak Sie, Gedung Batu Sam Po Kong, Lawangsewu, Buddhagaya temple, Masjid Agung Jawa Tengah, etc.) Besides visiting some places that prove Semarang is a very peaceful city for multi ethnic dwellers, he also wants to taste some local cuisine of course. (He loves eating!!!) Once I offered him a portion of ‘nasi bakar’ and he didn’t believe that there was such a menu here!!! And many other menu, of course. (I have KAMPUNG NASI on my mind, as one culinary place he has to visit if he drops by in Semarang.) Moreover, of course as an IT expert, I believe he is the best choice to take care of the cutie! And HE IS ALSO CRAZY FOR BIKING!!! Ah … I imagine to take him to join any XC my dear b2w friends love to do. With him biking beside me must be the best option to do!!!
Oh well … when writing this, I just realized how much I am missing him!!!
Btw, i have been online for more than two hours now. I still don’t see any sign that my Abang will appear. I had better go back to the office then. I have to prepare the material to teach.
Friends-Net 15.02 181008

No responses yet

Next »